Aceh Selatan Siap Mewujudkan Swasembada Pangan di Barat Selatan
Kabupaten Aceh Selatan merupakan diantara kabupaten di Provinsi Aceh yang memiliki luas baku sawah (LBS) besar terutama di kawasan Barat Selatan Aceh (Barsela) yakni 6.949 hektar yang tersebar pada 14 kecamatan. Kondisi ini tentu sangat menguntungkan daerah dan peluang berkontribusi untuk ketahanan pangan nasional.
Secara teritorial, Kabupaten Aceh Selatan adalah sentra produksi jagung dan padi di Barsela, namun produksi padi di daerah tersebut masih dibawah produksi Aceh Bagian Timur yakni 5,5 ton/ha. Salah satu faktor pembatas adalah penerapan teknologi budidaya belum optimal diterapkan oleh petani di lapangan disamping keterbatasan alat mesin pertanian (alsintan) terutama pra tanam.
Keterbatasan alat tersebut telah menyebabkan beberapa kecamatan mengalami keterlambatan tanam (bera) yang lama. Salah satu desa yang dikunjungi fase bera mencapai 3-4 bulan. “Ini sangat merugikan petani dan daerah secara umum. Petani sangat ingin jadwal tanam tetap sesuai dengan yang telah ditetap kabupaten, namun kondisinya berbeda di lapangan” sebut Koordinator BPP Pasie Raja Azhar.
Hasil kunjungan lapangan yang dilakukan Penanggung Jawab (PJ) Swasembada Pangan Kabupaten Aceh Selatan Husaini Yusuf bersama Tim dan Ketua Tim Kerja Penyuluh Pertanian Kabupaten Aceh Selatan Amri Hajida dibeberapa kecamatan menyebutkan bahwa secara umum kendala utama yang dihadapi petani adalah keterbatasan traktor roda 4 dan roda 2 untuk pengolahan tanah dan ketersediaan air tidak tepat waktu.
“Luas baku sawah Aceh Selatan sangat mendukung untuk kontribusi bagi swasembada pangan berkelanjutan daerah khususnya di Barsela, namun kami terbatas alat olah tanah traktor sehingga fase bera kami di beberapa kecamatan sangat lama” kata Katimker Amri Hajida.
Hal ini dikuatkan oleh PJ Kabupaten Aceh Selatan bahwa untuk mengatasi keterlambatan tanam Tim BBRMP Aceh akan melaporkan kondisi tersebut kepada PJ Pusat dan menyarankan pihak Koordinator Penyuluh di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di kecamatan untuk dapat mengusulkan seluruh kebutuhan petani di aplikasi e-Banper.
“Ini kesempatan bagi kita semua untuk mengusulkan semua kebutuhan petani. Kami meminta semua Koorluh untuk mengidentifikasi dan melaporkan seluruh kebutuhan petani, mulai dari aspek teknis dan non teknis juga kebutuhan benih misalnya, alsintan, irigasi dan mengusulkan melalui e-Banper kebutuhan tersebut sehingga kendala yang dialami petani di lapangan teratasi”, harap Husaini.