BRMP Aceh Kawal Pemulihan Pertanian Pascabencana di Kabupaten Gayo Lues
Gayo Lues — Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Aceh melaksanakan pendampingan dan pengawalan pemulihan pertanian pascabencana di Kabupaten Gayo Lues pada 6–9 Oktober 2026. Kegiatan ini dilakukan melalui koordinasi dengan dinas pertanian setempat, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), dan penyuluh pertanian, serta peninjauan langsung ke sejumlah lokasi terdampak.
Peninjauan difokuskan pada kondisi lahan sawah, perkembangan pertanaman padi, serta keberfungsian sarana pengairan yang mendukung kegiatan usaha tani. Dari hasil peninjauan di Kecamatan Blangkejeren dan Kecamatan Dabun Gelang, tim menemukan bahwa pemulihan pertanian di sejumlah lokasi masih menghadapi kondisi dan kebutuhan yang berbeda.
Di Desa Rigeb, Kecamatan Dabun Gelang, petani belum kembali menanam padi sejak bencana akibat keterbatasan air. Sarana Irigasi Perpompaan (IRPOM) yang tersedia belum difungsikan, sementara bendungan di sekitar lokasi mengalami kerusakan dan belum berfungsi. Kondisi ini menjadi salah satu kendala dalam pemulihan kegiatan budidaya padi dan perlu mendapat perhatian dalam tindak lanjut penanganan di lapangan.
Sementara itu, di Desa Leme, Kecamatan Blangkejeren, lahan yang dikelola Kelompok Tani Durin Siku telah kembali ditanami padi sejak Juni. Upaya pemulihan sarana pengairan di lokasi tersebut mencakup pembersihan sedimen saluran irigasi sepanjang kurang lebih 200 meter. Berdasarkan hasil peninjauan, pertanaman padi secara umum berjalan normal dengan dukungan curah hujan, meskipun ketersediaan air tetap perlu diperhatikan saat memasuki musim kemarau.
Kondisi serupa juga terlihat di Desa Penampakan, Kecamatan Blangkejeren. Lahan sawah terdampak tercatat seluas 12,8 hektare dengan komoditas padi. Dukungan sarana pengairan berupa saluran irigasi sekunder menjadi bagian dari upaya pemulihan di lokasi tersebut. Hasil peninjauan menunjukkan bahwa kondisi pengairan dan drainase dilaporkan berjalan lancar, dan petani telah melaksanakan penanaman padi satu kali sejak bencana.
Hasil peninjauan menunjukkan bahwa keberfungsian sarana pengairan dan ketersediaan air menjadi faktor penting dalam mendukung pemulihan pertanian pascabencana. Kondisi di setiap lokasi perlu menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan tindak lanjut agar dukungan yang diberikan sesuai dengan kendala yang dihadapi petani.
Melalui kegiatan ini, BRMP Aceh terus melakukan pendampingan dan pengawalan pemulihan pertanian melalui koordinasi dengan pemerintah daerah, BPP, dan penyuluh pertanian. Hasil koordinasi dan peninjauan lapangan menjadi bahan untuk mengidentifikasi kebutuhan lanjutan guna mendukung pemanfaatan kembali lahan sawah dan keberlanjutan usaha tani masyarakat di Kabupaten Gayo Lues.