BRMP Aceh Dorong Percepatan Pemulihan Sawah Terdampak Bencana
Banda Aceh — Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Aceh mendorong percepatan pemulihan lahan sawah terdampak bencana melalui penguatan koordinasi lintas sektor, khususnya dalam memastikan ketersediaan air dan pemulihan jaringan irigasi. Hal tersebut disampaikan Direktur Wilayah BRMP Aceh Firdaus, saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) Posko Wilayah Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Alam di Provinsi Aceh.
FGD yang berlangsung di Hermes Palace Hotel Banda Aceh, Jumat (7/8/2026), mengangkat tema “Penanganan Sektor Pertanian, Sistem Pengairan dan Daerah Aliran Sungai di Aceh Pasca Bencana Hidrometeorologi (Banjir) Tahun 2026”. Kegiatan tersebut menjadi forum koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Kementerian Pertanian, Kementerian PUPR, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mempercepat pemulihan pascabencana.
Ketua Satgas PRR Safrizal ZA dalam arahannya menekankan pentingnya percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi, terutama terhadap lahan sawah terdampak bencana. Pemulihan perlu segera ditindaklanjuti agar lahan yang telah diperbaiki dapat kembali dimanfaatkan petani dan mendukung keberlanjutan produksi pangan di Aceh.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Wilayah BRMP Aceh Firdaus menyampaikan bahwa pemulihan lahan sawah harus diikuti dengan percepatan penyediaan air. Menurutnya, lahan yang telah dioptimalkan perlu segera didukung dengan sistem pengairan yang memadai agar petani dapat kembali melakukan penanaman.
“Yang paling penting sekarang bagaimana air segera mengalir ke lahan sawah yang telah dioptimalisasi. Setelah air tersedia, petani harus segera tanam, sehingga lahan yang sudah kita pulihkan dapat kembali menghasilkan dan mendukung peningkatan produksi pangan,” ujar Firdaus.
Firdaus menilai pemulihan sektor pertanian tidak dapat dilakukan secara parsial. Rehabilitasi lahan harus berjalan beriringan dengan penanganan jaringan irigasi, sehingga dukungan terhadap produksi pertanian dapat segera dirasakan oleh petani.
“Kerja sama Kementerian PUPR dengan Kementerian Pertanian sangat dibutuhkan. Masih ada daerah irigasi, saluran primer dan saluran sekunder yang membutuhkan penanganan mendesak. Ini harus kita sinergikan agar air bisa segera sampai ke lahan petani,” tegasnya.
Ia juga mendorong pemerintah kabupaten/kota yang realisasi pemulihan sektor pertaniannya masih berada pada kategori merah untuk segera melakukan percepatan di lapangan.
“Bagi kabupaten yang realisasinya masih merah, segera gas pool. Jangan menunggu terlalu lama. Kita harus bergerak cepat agar target pemulihan dan penanaman dapat segera tercapai,” ujar Firdaus.
Selain mendukung percepatan pemulihan lahan dan jaringan pengairan, BRMP Aceh siap memberikan dukungan dalam penerapan teknologi dan modernisasi pertanian pada lahan yang telah direhabilitasi. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu mempercepat kembalinya produktivitas lahan sekaligus memperkuat ketahanan pangan di wilayah terdampak.
FGD Satgas PRR turut diikuti sejumlah kementerian/lembaga, pemerintah daerah terdampak, akademisi, dan media. Pembahasan meliputi rencana intervensi pemulihan lahan pertanian, rehabilitasi jaringan irigasi, restorasi fungsi daerah aliran sungai, pemetaan kerusakan lahan, serta identifikasi defisit irigasi.
Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi pleno dan perumusan rencana aksi pemulihan pertanian serta tata air wilayah Aceh. Forum kemudian ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama antara Satgas PRR, Kementerian Pertanian, Kementerian PUPR, pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi, dan mitra media.
Melalui penguatan sinergi lintas sektor tersebut, percepatan rehabilitasi sawah, pemulihan jaringan irigasi, dan percepatan penanaman diharapkan dapat segera diwujudkan. Dengan demikian, lahan pertanian yang terdampak bencana dapat kembali produktif dan berkontribusi terhadap penguatan ketahanan pangan di Aceh.