BRMP Aceh Lakukan Pemulihan Lahan Bencana di Bener Meriah dan Genjot Produksi Petani
[Bener Meriah, 1-4 September 2026] Kabupaten Bener Meriah merupakan salah satu kabupaten yang mengalami dampak langsung bencana banjir dan tanah longsor pada akhir tahun 2025 lalu. Salah satu sektor paling terimbas adalah sektor pertanian, khususnya pada lahan sawah, jaringan irigasi, lahan hortikultura, serta perkebunan yang merupakan andalan ekonomi petani.
Akibat kerusakan tersebut banyak usahatani petani mengalami kerugian bahkan terhenti aktivitasnya. Oleh karena itu, BRMP Aceh yang merupakan satuan kerja (satker) vertikal Kementarian Pertanian yang berada di Provinsi Aceh memiliki tanggung jawab dalam pemulihan pasca bencana pada sektor pertanian. BRMP mengirimkan Tim untuk melihat langsung dan mengidentifikasi kondisi eksisting lahan sawah, lahan hortikultura dan lahan Perkebunan dengan berkoordinasi melalui Dinas Pertanian dan Kelompok Tani terdampak.
Pada saat koordinasi dengan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Bener Meriah terutama dengan kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), dan juga kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura disebutkan bahwa distribusi bantuan bencana pada sektor pertanian sebagian besar sedang berjalan dan sudah diterima petani terdampak.
“Alhamdulillah, beberapa bantuan sudah diterima oleh petani terutama alsintan pascapanen kopi, pompa air untuk lahan sawah dan Jalan Usaha Tani (JUT). Beberapa bantuan lainnya sedang dalam proses usulan melalui e-Banper seperti benih cabai, bibit kopi arabika dan benih padi Inpago 13 Fortiz”, sebut kabid PSP, Yandi.
Yandi menambahkan, kebutuhan yang dinilai paling mendesak untuk petani sawah sekarang adalah Irigasi Perpompaan (IRPOM), Irigasi Perpipaan (IRPIP), dan alat pascapanen, khususnya mesin perontok jagung.
Tim BRMP juga melakukan kunjungan ke Co Working Space (CWS) Penyuluh Kabupaten. Pada kesempatan itu, Koordinator Penyuluh Dismi, mengatakan selain kerusakan lahan sawah, bencana juga berdampak cukup besar terhadap perkebunan kopi dengan luas terdampak sekitar 3.900 ha.
“Untuk mendukung kegiatan hortikultura akibat bencana, petani sangat membutuhkan Irpom. Karena banyak irigasi putus. Meskipun lahannya masih bagus namun irigasi rusak total maka tetap tidak bisa tanam”, kata Dismi
Disamping itu, Dismi menyatakan kegiatan prioritas Menteri Pertanian terutama PM-AAS sebanyak 19 ha di Kecamatan Timang Gajah dengan rencana tanam perdana pada November 2026. Masyarakat berharap untuk penanganan jaringan irigasi yang rusak agar bisa dipercepat guna mendukung program keberlanjutan swasembada pangan.
Tim BRMP Aceh setelah melakukan koordinasi dengan dinas teknis juga melakukan kunjungan lapangan untuk melihat langsung agar memperoleh informasi mengenai perkembangan kondisi lahan pertanian pascabencana, pelaksanaan program pertanian, progres distribusi bantuan Kementerian Pertanian, serta kebutuhan penanganan yang masih diperlukan di lapangan.
Diantara kunjungan tersebut adalah pada lokasi komoditas tanaman pangan di Desa Datu Beru Tunyang (lahan sawah yang rusak), Desa Linung Bale untuk melihat lokasi pembangunan jaringan irigasi, Lokasi IRPOM di Desa Bukit Tunyang, Kecamatan Timang Gajah. Tim juga mengujungi Desa Wonosobo untuk melihat kondisi lahan hortikultura, Desa Suka Ramai Atas untuk melihat perkebunan kopi yang terdampak longsor.