BRMP Aceh Dorong Penerapan PM-AAS untuk Perkuat Swasembada Pangan Berkelanjutan di Aceh Tengah
Aceh Tengah – Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Aceh melaksanakan kegiatan Pendampingan Swasembada Pangan Berkelanjutan di Kabupaten Aceh Tengah sebagai bagian dari upaya mendukung program strategis Kementerian Pertanian dalam memperkuat produksi dan produktivitas pangan, pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah, tersebut diikuti oleh unsur pemerintah daerah, penyuluh pertanian, Ketua Tim Kerja (Katimker) Kabupaten Aceh Tengah, petani, dan Polres serta Babinsa. Pendampingan diarahkan untuk memperkenalkan penerapan Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS), termasuk teknologi tanam rapat dan metode Tanam Benih Langsung (Tabela).
Kegiatan diawali dengan sambutan Penanggung Jawab (PJ) Swasembada Pangan, Elviwirda, yang menyampaikan pentingnya strategi Kementerian Pertanian dalam mendukung terwujudnya swasembada pangan berkelanjutan. Dalam kesempatan tersebut, peserta juga diberikan pengenalan singkat mengenai PM-AAS dan penerapan Tabela sebagai salah satu pilihan budidaya padi tanpa melalui proses persemaian.
Selanjutnya, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah, Nasrun Liwanza, memberikan arahan terkait upaya peningkatan produksi pangan melalui penguatan Brigade Pangan, peningkatan indeks pertanaman hingga dua kali tanam, serta optimalisasi dukungan irigasi dan alat dan mesin pertanian (alsintan).
Ia menekankan bahwa peningkatan produktivitas menjadi salah satu kunci dalam mencapai swasembada pangan. Penerapan teknologi dan dukungan sarana produksi perlu berjalan secara terpadu agar potensi lahan dapat dimanfaatkan secara optimal.
Dalam sesi materi teknis, peserta mendapatkan penjelasan mengenai penerapan Tabela sebagai salah satu metode untuk meningkatkan efisiensi biaya tanam. Metode tersebut memungkinkan petani melakukan penanaman benih secara langsung tanpa melalui proses persemaian dan tanam pindah.
Namun, penerapan Tabela perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan lahan. Pada kondisi tertentu, seperti saat curah hujan tinggi yang berpotensi menyebabkan benih hanyut, metode tanam pindah dapat menjadi alternatif. Meski demikian, prinsip utama PM-AAS berupa tanam rapat dan peningkatan populasi tanaman tetap harus dipertahankan. Peningkatan populasi tanaman tersebut perlu diikuti dengan pengelolaan input budidaya yang tepat, khususnya pemupukan. Semakin tinggi populasi tanaman, kebutuhan unsur hara juga perlu diperhatikan agar pertumbuhan tanaman tetap optimal.
Selain itu, peserta mendapatkan penjelasan mengenai pentingnya penggunaan silika dalam mendukung pertumbuhan tanaman. Pemberian silika disampaikan dilakukan sebanyak tiga kali sesuai pola budidaya yang diterapkan. Untuk mencapai produktivitas hingga sekitar 10 ton per hektare, penerapan PM-AAS membutuhkan pengelolaan budidaya secara menyeluruh, mulai dari dosis pemupukan, pengendalian gulma dan organisme pengganggu, pemeliharaan tanaman, hingga ketepatan waktu pelaksanaan.
Setelah sesi materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung di lahan. Peserta bersama tim BRMP Aceh melakukan praktik penanaman menggunakan pendekatan PM-AAS untuk memberikan pemahaman secara langsung mengenai penerapan teknologi tanam rapat di lapangan.
Pendampingan kemudian dilanjutkan dengan sesi pelaporan PM-AAS. Peserta diberikan pemahaman mengenai mekanisme pelaporan serta pembuatan akun yang digunakan untuk mendukung pencatatan dan pelaporan kegiatan PM-AAS.
Melalui kegiatan tersebut, BRMP Aceh mendorong agar penerapan teknologi pertanian modern tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi dapat diterapkan dan dipantau secara langsung di tingkat lapangan. Penerapan PM-AAS dengan pengelolaan budidaya yang tepat diharapkan dapat meningkatkan produktivitas padi sekaligus mendukung penguatan swasembada pangan berkelanjutan di Kabupaten Aceh Tengah.