Bendung Krueng Pasee Kunci Mewujudkan Swasembada Pangan di Aceh Utara
Bendung Krueng Pase di Aceh Utara resmi beroperasi kembali dan menjadi fondasi utama ketahanan pangan daerah di Kabupaten Aceh Utara. Rehabilitasi infrastruktur ini menghidupkan kembali aliran air untuk 8.922 hektare lahan persawahan di sembilan kecamatan, menjadikannya tumpuan utama swasembada beras di wilayah tersebut.
Rehabilitasi sarana bendungan tersebut merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional untuk memperkuat swasembada dan ketahanan pangan berkelanjutan yang menjadi fokus utama Presiden dalam menjaga ketahanan pangan Nasional.
Disebutkan, 9 kecamatan yang terdampak jebolnya bendungan tersebut meliputi Tanah Luas, Meurah Mulia, Samudera, Syamtalira Bayu, Syamtalira Aron, Nibong, Matangkuli, Pirak Timu, dan Lapang.
M. Yusuf salah seorang petani di Kecamatan Tanah Luas saat dijumpai di lapangan menyebutkan rasa syukur dan antusiasme para petani saat mengetahui bendungan tersebut sudah normal kembali beroperasi.
“Alhamdulillah, kami para petani sangat senang dengan normalnya kembali irigasi krueng pasee. Sebelumnya kami tanam dalam kondisi was-was”, ujar M. Yusuf.
Hasil pantauan lapangan yang dilakukan Penanggung Jawab Swasembada Pangan Berkelanjutan BRMP Aceh di Aceh Utara Husaini Yusuf bersama Ketua Tim Kerja (Katimker) kabupaten setempat Mukhsen pada 9 kecamatan yang terdampak terlihat bahwa para petani sudah mulai melakukan pembersihan lahan dan olah tanah.
“Ada beberapa titik lokasi pada kecamatan tersebut yang memang belum mengolah tanah disebabkan jaringan irigasi tersiernya belum dinormalisasi terutama di Kecamatan Lhoksukon. Namun progress pelaksanaan normalisasi tersebut terus berjalan dan InsyaAllah musim tanam ini akan normal”, Kata Husaini yang didampingi Katimker Mukhsen.
Setelah hampir 5 tahun bersabar, akhirnya keinginan petani padi di lokasi terdampak krueng pase bisa kembali melakukan penanaman secara normal dan ikut membantu dalam menunjang program swasembada pangan nasional di tingkat provinsi.