BRMP Aceh Dampingi Pemulihan Pertanian Pascabencana di Kabupaten Pidie
Pidie, 9 September 2026 — Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Aceh melaksanakan pendampingan dan pengawalan bantuan bencana banjir dalam rangka mendukung pemulihan sektor pertanian di Kabupaten Pidie, Rabu (9/9).
Kegiatan pendampingan dilakukan melalui koordinasi bersama Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Pidie, serta melibatkan ketua tim kerja dan penyuluh pertanian lapangan. Koordinasi tersebut menjadi bagian dari upaya menyelaraskan informasi mengenai kondisi pertanian terdampak bencana sekaligus mendukung pelaksanaan pemulihan sesuai kebutuhan di lapangan.
Dalam kegiatan tersebut, tim BRMP Aceh turun langsung ke sejumlah lokasi pertanian untuk melihat kondisi lahan, sarana pengairan, serta pemanfaatan bantuan dan infrastruktur pendukung pertanian. Pendampingan dilakukan di beberapa wilayah, antara lain Kecamatan Mutiara Timur, Glumpang Tiga, dan Kembang Tanjong.
Di Desa Jojo, Kecamatan Mutiara Timur, tim mendampingi peninjauan areal persawahan sekitar 10 hektare yang terdampak bencana. Di lokasi tersebut terdapat sumur bor dan jaringan irigasi tersier sepanjang sekitar 60 meter yang dimanfaatkan untuk mendukung pengairan sawah. Kondisi lahan terdampak relatif ringan dengan komoditas padi yang telah ditanam sejak Juli.
Pendampingan juga dilakukan di Desa Gampong Lada, Kecamatan Mutiara Timur, pada areal persawahan sekitar 59 hektare. Sekitar 13 hektare di antaranya terdampak bencana. Jaringan irigasi tersier sepanjang sekitar 102 meter telah dimanfaatkan untuk mendukung pengairan lahan. Kondisi tanaman padi yang ditanam pada akhir Juli relatif sehat dengan ketersediaan air yang cukup lancar. Petani juga menyampaikan sejumlah masukan terkait optimalisasi jaringan irigasi, khususnya dalam menghadapi kondisi banjir.
Sementara di Desa Alue Adan, pendampingan difokuskan pada pemanfaatan Irigasi Perpompaan (IRPOM) yang telah terealisasi sepenuhnya dan dimanfaatkan untuk mendukung sekitar 17,8 hektare lahan. Dari total sekitar 60 hektare lahan, sekitar 18 hektare terdampak bencana. Sarana tersebut menjadi penting bagi petani karena wilayah ini juga menghadapi keterbatasan air pada musim kemarau. Sumber air berasal dari sungai, sementara biaya bahan bakar untuk operasional pompa menjadi salah satu tantangan dalam pemanfaatannya.
Di Desa Panjoe, Kecamatan Glumpang Tiga, kondisi pertanian relatif baik dan tidak ditemukan kerusakan lahan yang signifikan akibat bencana. Tim turut melihat pemanfaatan jaringan irigasi perpipaan sepanjang sekitar 326,8 meter yang bersumber dari sungai dan mendukung pengairan sekitar 40 hektare sawah. Wilayah tersebut memiliki pola tanam padi dua kali dalam setahun.
Adapun di Desa Cebrek, Kecamatan Kembang Tanjong, pendampingan dilakukan pada areal terdampak sekitar 30 hektare dengan dukungan optimalisasi lahan seluas 25 hektare serta jaringan irigasi tersier. Kondisi tanaman padi relatif sehat meskipun petani menghadapi kondisi kemarau dan keterbatasan air. Pemanfaatan jaringan irigasi telah memberikan manfaat bagi petani meskipun cakupan pengairannya masih belum optimal.
Dari rangkaian pendampingan tersebut, kondisi lahan pertanian yang terdampak banjir di lokasi yang dikunjungi relatif ringan. Namun, keberlanjutan pengairan menjadi salah satu perhatian penting dalam pemulihan pertanian, terutama dalam menghadapi kondisi kemarau dan memastikan lahan dapat kembali produktif.
Melalui kegiatan pendampingan dan pengawalan ini, BRMP Aceh terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan penyuluh pertanian untuk mendukung pemulihan sektor pertanian pascabencana. Kehadiran di lapangan diharapkan dapat membantu memastikan bantuan dan dukungan pemulihan dapat dimanfaatkan secara optimal serta sesuai dengan kebutuhan petani dan kondisi wilayah.